Perajin Tahu dan Tempe Menjerit

Nama: zerry olander

kelas : 2ea13

npm : 15209193

Perajin Tahu dan Tempe Menjerit

Editor: Hertanto Soebijoto

Rabu, 9 Februari 2011 | 09:05 WIB

Dibaca: 1760

Komentar: 1

KOMPAS.COM/HERTANTO SOEBIJOTO Ilustrasi: Penjual tempe di Pasar Gardu, Cipayung, Jakarta Timur.

1

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga kedelai impor membuat perajin tempe di Jakarta menjerit karena kenaikan harga itu tidak bisa diikuti dengan kenaikan harga jual tempe. Akibatnya, keuntungan perajin kian merosot.

”Sekitar enam bulan lalu, harga kedelai impor kualitas terbaik masih Rp 5.800 per kilogram (kg). Sekarang harga kedelai sudah sampai Rp 6.600 per kg. Hampir setiap hari ada kenaikan harga,” ucap Kamuri (61), pedagang tempe di Jalan Utan Panjang III, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (8/2/2011).

Sementara harga jual tempe masih tetap, yakni Rp 20.000 per lonjor sepanjang 2 meter. Bila dirata-rata, satu kg tempe harganya Rp 3.000 dan Rp 5.000 untuk kualitas super.

Harga tempe tidak bisa naik karena daya beli masyarakat terbatas. ”Selain itu, persaingan perdagangan tempe semakin ketat. Kalau kami menaikkan harga tempe, pembeli bisa cari tempe dari tempat lain yang harganya lebih murah,” ujar Kamuri.

Persoalan serupa dihadapi perajin tempe dan tahu di sentra produsen tempe tahu di Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. ”Dengan harga kedelai normal Rp 5.500 per kg saja, pendapatan yang diperoleh perajin tahu berkisar Rp 60.000 per hari jika produksinya 100 kg. Kalau harga kedelai seperti sekarang, bisa-bisa mereka rugi, bahkan tidak produksi,” kata Ketua Primkopti Swakerta Jakarta Barat, Suharto.

Di wilayah Semanan terdapat sekitar 1.200 perajin tahu dan tempe. Dalam sehari mereka membutuhkan sekitar 60 ton kedelai mentah.

Pakan ayam

Sementara itu, beberapa peternak ayam broiler, pemasok ayam potong di pasar-pasar di Jakarta Selatan mengeluhkan tingginya harga pakan.

”Sudah sejak sekitar dua tahun lalu harga pakan terus naik. Kualitasnya juga makin enggak bagus,” kata Rohis, salah satu pemasok daging ayam di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Harga dedak berkualitas bagus tanpa campuran gilingan kulit padi untuk pakan ternak saat ini mencapai Rp 2.500-Rp 3.000 per kg. Tahun 2007-2008 harga dedak kualitas bagus masih berkisar di bawah Rp 2.000. Padahal, tambah Rohis, biaya pengadaan pakan biasanya ditambah asupan vitamin dan antibiotik yang mencapai 70 persen dari total biaya operasional peternakan ayam. (ART/NEL/FRO/PIN)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s