Rambu-Rambu ‘Mati’, Lemahnya Hukum Lalu Lintas

Apa yang terjadi jika dengan sengaja (atau pun tidak) kita melanggar lampu merah atau tidak membawa kelengkapan berkendara? Kemungkinan paling ringan adalah diklakson dan dimaki pengguna jalan lain untuk kasus melanggar lampu merah. Kesialan selanjutnya mungkin mendapat sapaan ramah senilai 20.000,-, bahkan mungkin lebih, dari bapak polisi lalu lintas.

Kemungkinan terburuk adalah kecelakaan lalu lintas yang tentunya mengakibatkan kerugian bagi para pengguna jalan lain. Jenis pelanggaran rambu atau peraturan lalu lintas semacam itu memang sudah sangat jelas konsekuensi dan sudah cukup akrab dalam keseharian kita.

Tapi bagaimana dengan rambu-rambu lalu lintas yang lain? Dilarang parkir atau dilarang stop misalnya. Umumnya larangan parkir atau stop tersebut diberlakukan di daerah yang memang ramai dan rawan macet. Seperti di Jl. C. Simandjuntak, beberapa spot di jalan Solo, Terban, dan beberapa kawasan padat lain. Namun coba saja kita amati. Sebenarnya tidak ada pengaruh yang berarti dengan diberlakukannya larangan maupun rambu lalu lintas jalan tersebut.

Di perempatan Jl. C. Simandjuntak, misalnya. Meski telah ada pelebaran badan jalan, namun kawasan ini tetap saja belum mampu menampung jumlah kendaraan yang menggunakan jalur itu. Kemacetan kerap terjadi terutama pada saat jam sibuk. Ini semakin diperkeruh dengan penggunaan salah satu sisi jalan untuk area ‘ngetem’ bus dalam kota. Padahal, tepat dimana kendaraan umum beroda empat tersebut parkir, terdapat tanda S dicoret dan aturan tertulis yang melarang secara tegas tindakan menunggu ataupun menaikkan penumpang bagi angkutan umum.

Kemudian masih ada lagi, aturan yang kerap disepelekan. Jalan satu arah. Mungkin banyak yang tidak menyadari jika dari jalan alternatif Sagan terdapat larangan belok ke selatan atau ke arah perempatan Galeria dimulai pukul 10.00 -22.00 WIB. Tapi coba saja berdiri disana pada jam-jam tersebut, dan amati arus lalu-lintasnya. Sepuluh menit saja. Angka yang cukup besar akan didapatkan jika Anda menghitung berapa banyak kendaraan yang memotong jalan dan melanggar larangan belok tersebut.

Yang lebih mengherankan, semua berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ketakutan yang kerap menyergap ketika berkendara tanpa SIM dan terjebak dalam razia rasanya tidak ikut ambil bagian dalam kondisi semacam itu.

Entah siapa yang harus dipersalahkan. Jika memang pada kenyataannya rambu-rambu lalu lintas tersebut tidak dapat difungsikan, lalu kenapa mereka masih saja berdiri tegak di jalanan kota ini.

Jika memang aparat berwenang dan masyarakat tidak mampu untuk bersama-sama menghormati aturan jalan tersebut. Bukankah sebaiknya jika larangan itu dipangkas sekalian? Agar tidak menimbulkan berbagai opini negatif mengenai kinerja pemerintahan kota. Atau justru  mencoreng tradisi kebudayaan masyarakat kita yang nyatanya pernah diangkat dalam sebuah tagline iklan komersial ‘Patuh Cuma Kalau Ada Yang Lihat’.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s