tugas review 3 jurnal

Nama : Zerry olander
Kelas : 3 ea 13
Npm : 15209193

Tema : Ekonomi mikro
KONTRIBUSI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM UPAYA MENJALANKAN PEREKONOMIAN DI INDONESIA

Latar belakang
Dalam perekonomian Indonesia, keberadaan Lembaga Keuangan Mikro merupakan suatu hal yang sangat membatu jalannya perekonomian, tak terlepas sejak krisis moneter menerpa perekonomian bangsa ini tahun 97 lalu, keberadaannya kini dapat dikatakan sangat eksis karena hadir hampir di segala bidang perekonomian. Tujuannya adalah tak lain untuk menjalankan sendi perekonomian di sektor ekonomi mikro.

Tujuan penelitian
1. Menganalisis peranan LKM dalam perekonomian indonesia.
2. Menganalisis potensi dan permasalahan LKM yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan di masa depan, yang memungkinkan menjadi salah satu pilar sistem keuangan nasional.
Hipotesis
Hipotesis sementara yang erat kaitanya hubungan antara fungsi Lembaga keuangan Mikro dengan kondisi perekonomian adalah terdapat kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian mikro di Indonesia. Dalam hal ini Lembaga keuangan Mikro, memiliki andil yang besar terhadap jalannya perekonomian mikro, maupun perekonomian kelas bawah.
Metodologi
Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia, Pegadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) serta sumber lainnya yang terkait. Sementara alat analisis yang dipakai adalah bersifat deskriptif. Studi kepustakaan, baik yang berasal dari buku teks maupun jurnal/majalah merupakan sumber yang sangat penting, begitu pula diskusi dengan teman seprofesi guna mempertajam analisisnya.

 

Hasil dan Analisis
1. PERAN STRATEGIS LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERUMAHAN
Oleh :
NOER SOETRISNO, 2010
Jika gambaran tentang Lembaga Keuangan Mikro (KLM) dan Pembiayaan Perumahan yang berlaku demikian, maka mengapa kredit mikro penting bagi pembangunan perumahan ? Berbisnis pembiayaan mikro adalah kegiatan yang produktif, karena dapat diselenggarakan secara komersial dan kompetitif serta dapat hidup secara berlanjut (sustain) dan yang lebih penting pasarnya belum jenuh. Diantara pasar yang belum jenuh itu adalah pembiayaan perumahan, karena kedudukannya yang harus dipenuhi dan kaitan kegiatannya rakyat luas dengan saling keterkaitan yang tinggi. Sekurangnya Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah memberikan semangat bahwa pasar masih terbuka lebar. Jika dilihat dari potensi pasar setiap tahun masih akan tumbuh 800.000 rumah tangga baru yang memerlukan hunia. Diantara masyarakat yang belum memiliki rumah umumnya telah memiliki rencana untuk dapat memiliki atau menghuni rumah sendiri dalam jangka waktu maksimal tiga tahun, angka ini diperkirakan mencapai sekitar 35% (BPS, 2004). Dengan demikian potensi permintaan hunian masih cukup besar, salah satu hambatan untuk merubah dari potensi menjadi permintaan riel adalah tersedianya pembiayaan untuk membeli rumah dengan jangka waktu sesuai kemampuan ekonomi konsumen. Kredit mikro menjadi agenda yang mendunia karena adanya realitas kehidupan usaha mikro sebagai kegiatan ekonomi berskala mikro yang unik dan sering bergerak lokal. Mengenai kriteria dan besaran usaha mikro mungkin kita bisa bedebat dan berbeda, tetapi kita sependapat dengan ciri umum usaha mikro yakni ”terabaikan oleh pelayanan bank komersial yang konvensional. Hal ini hanya mungkin diberikan kalau bank ingin masuk melayani mereka harus disertai pengertian tersendiri, yaitu upaya khusus dan kasediaan untuk bekerja tidak seperti biasa. Jika itu lembaga keuangan bukan bank, termasuk koperasi, memang seharusnya didedikasikan untuk itu karena memang pillihan dan tugasnya.

Lembaga keuangan Mikro memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan perumahan, karena dengan konsep pembiayaan yang sangat fleksibel untuk membeli rumah dengan jangka waktu sesuai kemampuan ekonomi konsumen.

 

2. PEMBERDAYAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SEBAGAI SALAH SATU PILAR SISTEM KEUANGAN NASIONAL: UPAYA KONKRIT MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN1
Oleh :
Wiloejo Wirjo Wijono 2009

Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tidak terlepas dari perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peranan UMKM terutama sejak krisis moneter tahun 1998 dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja.
Kinerja UMKM dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besaran Produk Domestik Bruto yang diciptakan UMKM.
Dalam perkembangannya, lembaga-lembaga keuangan informal ini lebih mengena di kalangan pelaku UKM karena sifatnya yang lebih fleksibel, misalnya dalam hal persyaratan dan jumlah pinjaman yang tidak seketat persyaratan perbankan maupun keluwesan pada pencairan kredit. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal sesuai dengan kebutuhan pelaku UKM, yang umumnya membutuhkan pembiayaan sesuai skala dan sifat usaha kecil. Keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal ini kemudian disebut sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
Namun sangat disayangkan, bahwa dalam tahun 2003 mencapai nilai Rp 1.013,5 triliun (56,7 persen dari PDB). Jumlah unit usaha UMKM pada tahun 2003 mencapai 42,4 juta,
Dalam perkembangannya, lembaga-lembaga keuangan informal ini lebih mengena di kalangan pelaku UKM karena sifatnya yang lebih fleksibel, misalnya dalam hal persyaratan dan jumlah pinjaman yang tidak seketat persyaratan perbankan maupun keluwesan pada pencairan kredit. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal sesuai dengan kebutuhan pelaku UKM, yang umumnya membutuhkan pembiayaan sesuai skala dan sifat usaha kecil. Keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal ini kemudian disebut sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Lembaga Keuangan Mikro memiliki andil yang sangat besar terhadap Usaha kecil dan Meengah, dimana Lembaga Keuangan Mikro mampu memberikan pinjaman dana yang sifatnya lebih fleksibel, misalnya dalam hal persyaratan dan jumlah pinjaman yang diajukan tidak seketat persyaratan peminjaman modal pada perbankan. Jelas hal ini merupakan kontri busi yang besar bagi dunia perekonomian indonesia yang lebih luas.

 

3. FENOMENA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN EKONOMI PEDESAAN

Oleh :Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman, 2010
Pembangunan ekonomi pedesaan sebagai bagian integral dari Pembangunan Ekonomi Nasional, keberhasilannya banyak di sokong oleh kegiatan usaha tani. Hal itu merujuk fakta, sebagian besar masyarakat di pedesaan menggantungkan hidupnya dari kegiatan usaha tani. Oleh karena itu tidak mengherankan, kegiatan usahatani sering dijadikan indikator pembangunan ekonomi pedesaan. Di dalam praktek usahatani, diperlukan inovasi teknologi guna mendorong peningkatan produktivitas dan produksinya. Kelemahan petani justru pada adopsi inovasi teknologi yang relatif rendah sebagai dampak penguasaan modal usahatani yang lemah. Untuk mengatasi kekurangan modal usahatani, petani biasanya mengusahakan tambahan modal dari berbagai sumber dana baik dari lembaga keuangan formal (perbankan) maupunm kelembagaan jasa keuangan non formal. Namun umumnya karena petani sering tidak memiliki akses terhadap lembaga perbankan konvensional, ia akan memilih untuk berhubungan dengan lembaga jasa keuangan informal seperti petani pemodal (pelepas uang – rentenir), atau mengadakan kontrak dengan pedagang sarana produksi dan sumber lain yang umumnya sumber modal tersebut mengenakan tingkat bunga yang irrasional karena terlalu tinggi dan mengikat. Kondisi demikian berdampak buruk tidak saja bagi petani akan tetapi juga merusak tatanan perekonomian di pedesaan.

Sebagai negara agraris, wajar bila perekonomian Indonesia juga dipenuhi oleh usaha tani, yang merembah hingga kepelosok pedesaan. Kehadiran LKM sangat teras diman ketika para pengusaha tani membutuhkan modal dengan keringanan bunga pinjaman. Di tambah denganbantuan teknologi yang dimiliki agar hasil petanian jauh lebih baik.

Analisis :
Dari ke tiga jurnal di atas dapat saya analisis bahwa kehadiran Lembaga Keuangan Mikro ternyata mampu membangkitkan geliat perekonomian Indonesia di tengah krisis perekonomian, dimana LKM mampu hadir untuk mendampingi setiap usaha mikro masyarakat indonesia agar dapat lebih berkembang. Terlebih LKM menjadi bagian yang tak terindahkan dari Usaha Kecil Menengah, yang dimana dapat mencapai pelosok desa yang kurang akan pembangunan.

Rekomendasi :
http://makalahjurnalskripsi.com/contoh-tentang-judul/jurnal-ekonomi/

 

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s